Ramai Lancar
Ramai Lancar
Telinga berdengung karena udara yang berubah tekanan. Tak mau kalah disusul gemericik bunyi air hujan, dan klakson kendaraan yang bersahutan. Riuh ramai pun turut menghiasi ruangan ini. Mengaduk secangkir minuman favorit mengiringi tawaan karena lelucon, cerita yang menggebu karena kesal, dan tangis sesenggukan yang mengurai peluk. Jalan raya yang kompetitif pun penuh di setiap sisinya. Semua orang berlomba dikejar waktu untuk sampai garis finish-nya. Entah ke rumah, tempat kerja, stasiun, atau sekadar berkeliling tidak ada tujuan. Tiap hari sama sekali tak ada celah ruang hampa udara yang kosong tanpa suara bising. Kipas angin di pojok ruangan yang selalu menoleh ke kanan dan kiri, kursi reot yang seharusnya sudah beli baru, atau suara memekakkan telinga dari kucing yang bertengkar di atap seng rumah.
Manusia, hewan, tumbuhan, alam, bahkan benda mati sekalipun tak henti-hentinya bersuara. Seakan berlomba menjadi siapa yang paling keras bunyinya untuk didengar. Kata manusia, manusialah makhluk hidup yang paling jahat. Menjadi satu-satunya “makhluk bersuara” yang dibekali akal dan budi pekerti namun lontaran katanya sering mengiris sanubari. Berisik. Kepala dan telingaku sudah berisik. Tambah lagi suaramu yang sumbang memecahkan gendang telingaku. Tinggi, jadi tinggi kepalamu. Tinggi bahumu. Jauh lebih asing dan bising dari suara knalpot motor tua kakekku.
Saking berisik suaramu, jika aku berdiri di tengah, tertabrak sekalipun aku tak akan sadar. Dunia terlalu sibuk. Sibuk kejar nama, jabatan, kepuasan. Berdiri saja sebenarnya sudah melelahkan. Kenapa harus mengeluarkan suara yang tak perlu?

Komentar
Posting Komentar