Bentala Tak Sudi

      

      Kedua kaki yang menopangku hari ini terbentuk dari darah Ibuku. Tulang-tulangku yang patah ini juga hasil kongsi kalsium yang dikorbankan tubuh ibuku. Organ tubuhku terbentuk sempurna dalam tubuhnya meskipun sempat prematur. Ketika sudah besar, nahasnya telingaku berdarah mendengar tangisnya siang malam karenamu. Berulang kali nyaris berjumpa ajal sejak masih segumpal darah, tapi akhirnya tetap berjumpa denganmu di kehidupan yang sial ini. Seharusnya, biarkan saja aku mati selayaknya mayat yang lain, bukan malah ditinggalkan mati dengan keadaan jantungku masih berdetak seperti ini.

    Aku durhaka sebagai anak yang selalu mengumpatmu. Namun, apakah aku benar-benar anakmu? lantas, durhakakah aku?

      Hari-hari kuhabiskan bersujud di hadapan Tuhan-ku tanpa berbicara, karena kata-kataku sudah habis tumpah di tebalnya wajahmu. Tanah rumah ini kotor karena kau yang huni. Air-air menjadi tercemar karena membasuh dosa tubuhmu setiap hari. Matahari pun sebenarnya menolak menerangimu yang terlanjur gelap, hitam penuh asap, hasil api amarahku yang terbakar tahun-tahun silam.

       Sama sepertiku, darah, daging, tulang di tubuhmu yang hina itu juga hasil pengorbanan seorang ibu yang suci. Kita semua lahir dari puan, rahim makhluk hidup yang seenaknya kau robek harga dirinya itu. Lupa, lega hatimu menyakiti tiga generasi puan yang doanya tak pernah putus untukmu. 

     Jalang lebih manis racunnya. Anaknya pun lebih kau cinta. Andai doa-doa siang malam itu bisa kutarik ulang, mungkin kini aku sudah berlimpah kemakmuran. Bertahun-tahun sudah lewat tanpa kehadiranmu, seharusnya bapak mati saja. Tidak akan ada bedanya. Lebih baik ditinggal mati tanpa tahu kau benar-benar menyayangiku atau tidak. Lebih baik ditinggal mati dan mengenang dirimu lewat pigura. Lebih baik ditinggal mati daripada hidup dan membuat orang lain ingin mati.

      Orang bilang manusia terbuat dari tanah dan akan kembali ke tanah. Entah aku atau dirimu lebih dulu, sepedih apapun maafmu kelak, sudah ku jamin tidak segumpal tanah pun dari bentala ini yang sudi menerimanya. Ini dariku, si anak durhaka.


Komentar

Postingan Populer