1 Banding 1111
1 Banding 1111
Satu dari sekian yang ada di dunia. Banding, membandingkan, berbanding terbalik, sering digunakan ketika berbicara perihal perbedaan.
Apel merah, apel kuning, apel hijau, apel malang, sampai apel fuji, semuanya tetap sama, bukan? oh tidak ternyata. Ada orang yang akan menyangkal karena perbedaan pupuk, pembibitan, tekstur, hingga rasa. Tapi bukankah semua buah apel sama-sama membawa manfaat yang baik dari segi kandungan gizi? perihal rasa dan tekstur, itu kembali lagi kepada selera tiap orang. Aku tidak bisa memaksakan rasaku terhadapmu, begitu pula rasamu terhadapku.
Suka tidak suka, senang tidak senang, kita semua tidak ada satu pun yang diciptakan sama persis. Serupa? banyak. Tapi serupa tidak pernah menjadi sama. Warna ada banyak jenisnya. Warna biru pun bisa dibagi lagi menjadi jenis-jenis warna yang lain tergantung tingkat saturasi dan terang-gelap warna yang ingin ditampilkan ke lingkungannya. Kembali lagi itu tergantung selera dan penerimaan, kan?
Gelap terang, hitam putih, dan baik buruk. Salah satunya tidak akan ada jika yang lainnya tidak diciptakan.
Angka pun demikian. Bagaimana dengan 1 dan 11? atau bahkan 111, 1111, dan seterusnya? nilai mereka berbeda walaupun serupa. Tapi biarlah angka 1 tetap dibaca satu dan 1111 menjadi seribu seratus sebelas. Tidak perlu menyebut salah satunya lebih kecil dibandingkan yang lain, kan?
Aku senang berdiri di antara hiruk-pikuk milyaran manusia ini. Baju mungkin sudah puluhan yang ku temui kembar dengan yang ku kenakan hari ini. Tapi bukan berarti orang itu adalah aku, atau bajuku yang murahan.
Rasa-rasanya dan dipikir-pikir jadi apel saja rumit, ya. Menjadi angka pun begitu, yang kerap jadi tolok ukur suatu hal. Padahal warna, besar kecil, bentuk, semuanya unik.
Aku tak perlu jadi kamu, dia, kalian, atau mereka. Jadi diriku sendiri saja kadang melelahkan. Kalau menjadi dirimu misalkan, ukuran sepatuku belum tentu muat, kan? huft, aku tidak mau membeli sepatu baru untuk itu. Aku begitu mencintai sepatu milikku.
Serupa dengan orang-orang di sekitar kadang jadi rasa bersyukur kadang justru malapetaka. Tidak semua orang bisa menerima rasa senang dari bentuk yang serupa itu. Keadaan memaksa suatu bentuk baik ditempa dan dicetak untuk membuat bentuk lainnya terlihat tidak layak. Padahal mereka sama-sama berharga jiwanya.
Cerita ini mungkin membuat kepalamu pusing. Tapi yakinlah, kadang apel merah pun merasa kesal ketika orang mengira dirinya sebagai persik, lalu dibuang karena rasanya asam, alih-alih terasa manis. Rumit untuk mencetak setiap pola menjadi sama persis. Kenapa tidak mencoba untuk menerima bahwa semuanya tidak harus berjalan sesuai rasa yang kamu mau?

Komentar
Posting Komentar