God's Favorite
Kali ini aku kalah lagi. Kalah 'tuk sampai ke pintu gerbang sekolah sebelum ditutup denting waktu tepat pukul tujuh. Huh, padahal aku sudah bangun dari pukul empat pagi buta. Jauh lebih pagi dari kawanku yang bangun mepet pukul enam lewat empat puluh lima menit, dan rumahnya lebih jauh, lho. Aku mana tahu pagi ini di jalanku akan ada pohon besar tumbang yang buat padat merayap, dan tak memberi akses berjalan satu sentimeter pun. Beruntung sekali lawan lombaku itu lewat jalan yang mulus. Kutelan ludahku pahit-pahit, malu, menahan ditatap mata seluruh warga sekolah akibat aku terlambat. Hanya karena kecepatanku 'tuk sampai berbeda dengan orang-orang di depanku, yang tak bertemu dengan pohon sialan itu. Ya, tentu itu bukan salahku, aku tidak pernah memintanya. Pohon itu 'kan bukan aku yang menebangnya.
Pulang, aku lelah. Aku ingin beli es krim! es krim adalah obat dari segala obat. Tapi entah apa dosa berat yang telah kuperbuat. Satu-satunya es krim rasa favoritku yang tersisa itu telah berakhir di genggaman anak TK seberang. Kini tersisa es krim rasa durian yang sangat aku benci. Aku lelah, aku butuh itu, es krim favoritku. Dia pasti tidak mengalami apa yang aku alami, 'kan? dia tidak dihukum di sekolah hari ini, jadi dia tidak berhak ambil itu dariku.
Tidak-tidak, itu hanya ada ada di pikiran ku saja, kok. Aku tak sampai hati merenggut senyum lebarnya hanya karena sepotong es krim. Besok, es krim itu masih bisa kucari lagi.
Duh. Ternyata cobaan hari ini belum selesai. Entah sejak kapan sepatuku ini rusak. Alasnya menganga seperti orang kelaparan minta makan. Aku tertawakan saja dulu hari ini, hahaha bodoh..bodoh. Aku lupa memberitahu ibu bahwa sepatuku rusak. Oh, tidak-tidak. Aku sudah memberitahunya sejak satu minggu yang lalu!
Emm, lalu kenapa ini masih rusak ya? aku lihat lagi, tidak ada bekas lem atau jahitan, semuanya masih sama seperti ketika aku bilang ini rusak. Ya sudah tidak apalah, aku bisa jahit sendiri, dengan sisa benang merah bekas menjahit rompi merahku ini.
Untung saja rumahku masih diam di tempat tidak kemana-mana, hehe. Aku tidak tahu bagaimana pusingnya badan dan kepalaku harus mencari kamar ternyamanku itu kalau sampai dia benar hilang. Kulepaskan semua seragam sekolah ku. Kubasuh wajah yang panas menahan matahari dan emosi. Kusisir rambut, merapikan sedikit tempat tidur, dan menyapunya. Kembali lagi kuhampiri cermin di kamar, kulepaskan senyumku. Paling tidak yang tersisa hari ini, kasurku masih baik-baik saja.
Jadi yang tersayang memang selalu didambakan. Kesayangan ibu, kesayangan teman, dan kesayangan Tuhan.
Everyone knows who is God’s Favorite.

Komentar
Posting Komentar