Laut
Laut
Kali keempat aku datangi tempat ini, tak pernah terpikirkan sebelumnya akan jadi tempat yang paling menyesakkan. Rasanya masih sama, ketika terakhir kali berucap dalam hati semoga jalanmu dilancarkan. Warna pasir yang kelabu gelap, seakan mengisyaratkan sejumlah luka kesedihan tergores pada tiap sanak keluarga yang menggunakan pakaian putih-putih itu. Aku pun begitu. Aku pernah turut berdiri di sini mengantarkan mu kepada-Nya, yang jauh lebih menyayangimu dari aku. Aku selalu penasaran di ujung laut itu apakah ada istana? apakah megah? lebih bagus mana dengan rumah kita?
Kamu terlalu sombong sekarang, tidak pernah lagi mau bercerita kepadaku. Kamu tahu? wadah bija1 di rumah sekarang selalu kering. Tidak ada yang rajin mengisi baru sepertimu dulu. Orang-orang begitu malas dan seperti tidak ada kehidupan. Sekarang susah sekali ya untuk menyapamu barang sebentar saja? rasanya untuk rindu padamu saja menjadi sesuatu yang mustahil dan terlarang, dirimu tidak bisa aku gapai lagi. Aku terlalu kotor dan penuh dosa. Walaupun kini kamu sudah menyatu dengan-Nya, tapi aku yakin kamu pun ada di sisi terdekat ku, bagian dalam diriku.
Laut di depanku ini tak pernah bercerita sudah berapa banyak sayup-sayup tangis yang terdengar mengiringi jiwa yang ia sambut kedatangannya. Bekas sarana upacara yang terhempas dari laut ke tepian ini seakan jadi pertanda rumah baru bagi sejumlah jiwa yang tenang. Aku yakin kini kamu sudah jauh lebih baik, sangat. Entah dari kehidupan kini atau nanti, kan tetap ku titipkan doaku kepada Sang Hyang Jagat yang sungguh mencintaimu itu. Meski masih tak kupercayai, laut2, sampun3 nglaut4.
1 Bija: sarana persembahyangan umat Hindu berupa beras yang terendam air bersih.
2 Laut: berakhir, selesai.
3 Sampun: sudah.
4 Nglaut: kemudian, meninggal dunia.

Komentar
Posting Komentar