Sembunyi Bulu


Malam ini hujan lagi. Ketika hujan datang, biasanya ia selalu mengundang. Hari pun berjalan dengan luar biasa, hebat. Datanglah ia dengan perangainya yang tak dapat ditaklukan. Kikuk, kaku melihat bayang itu. Hitam legam, mengikutiku dari ujung rumah besar. Kusingsingkan lengan baju yang sudah berlumuran lumpur itu, lalu bersembunyi di balik tembok gang kecil yang sudah berlumut. Dingin, badanku menggigil sambil tetap ku sembunyikan sekujur tubuhku dan juga merindingnya bulu kudukku. Bayangan besar itu mendekat, derap langkah kakinya semakin jelas. Kubangan air di sekitar jalanan tak henti memercik kemana-mana.
Suhu tubuhku semakin tak karuan. Rintik hujan yang sebelumnya mereda kini terlihat mulai mengganas lagi. Sudah kupastikan setelah ini badanku hanya akan berakhir lemas di kasur tipis itu dengan selimut koyakku. Tempat persembunyian ini sepersekian detik membuatku termenung di tengah dinginnya malam yang menusuk, lupa akan tujuan utama mengapa aku bersembunyi. Diriku terperanjat begitu sadar tak kudengar lagi suara langkah kaki bayangan hitam itu. Namun, kini satu-satunya sumber cahaya dari ujung jalan pun ikut tak terlihat lagi. Aku mulai merasakan sedikit demi sedikit rasa hangat menuju suhu panas mengitari sekelilingku. Sial, aku ketahuan. Dia menemukanku. Rasa takutku sendiri. Bayangan gelapku sendiri.
Tiap malam aku selalu berperang dengannya. Dia seharusnya tidak boleh menemukanku. Esok tatkala hari sudah pagi dan tak hujan lagi, seharusnya aku bisa bangun tanpa membawa dirinya pergi dengan perasaan berat hati sepanjang hari. Bulu kudukku pertanda lemah dan kalah jatuh di hadapannya. Aku sungguh mencintai hujan, tapi aku benci tiap kali dia datang. Sesekali aku menang, tapi seringkali kalah juang.

Komentar

Postingan Populer