Sentimental

Sentimental

Hembusan napas berat keluar darimu begitu sampai di tempat ini. Panjang dan beratnya hari terasa begitu melelahkan hingga akhirnya sampai pada waktu bertemu denganmu, semuanya hilang. Perutmu yang sudah berisik minta diisi seketika membuatmu menjadi sosok yang tidak sabaran, dan lantas merengut. Tenggorokan pun ikut minta air karena akhir-akhir ini cuaca tak menentu dan hanya mengundang sakit. Walau demikian, malam ini kembali berhasil ku dengar ceritamu. Tentang Rahmat yang keras kepala tidak mau membayar hutang, Kania yang masih bersama kekasih kurang ajarnya itu, atau Deni si anak baru yang supel di tempat kerjamu. 

Wangi parfummu sungguh khas, lekat di pakaianmu yang kusut dan lekat juga di benakku. Masih terukir senyum manis dan lebar memperlihatkan lesung pipi dan gigi gingsulmu walaupun mata sudah layu. Masih ada pula tenaga untuk bercerita walaupun makanan yang kau pesan tak kunjung tiba. Sialnya menjadi dewasa, kadang aku lupa kapan terakhir menanyakan kabarmu. Benar, kabar terdalammu. Bagaimana sekarang kondisi yang ada di dalamnya? bertemu, makan, bercerita, emosi, pertengkaran, diam, tertidur, dan diulangi. Rasanya semakin kesini tak sempat barangkali mencicipi sedikit waktu yang manis sejenak saja.

Laptop yang penuh dengan stiker kartun favorit itu pun kini masih sempat-sempatnya bergulat dengan lensa kacamata mu untuk menyelesaikan tugas-tugas duniawi. Ditemani kopi favoritmu, sesekali masih dapat aku rasakan sentuhan hangat dari tanganmu yang sudah dingin terkena air hujan saat di motor tadi.

Tak pernah ku kira 'kan begini. Ruang, waktu, tenaga, dan sosok manis di depanku menjadi pelengkap bagian yang penuh untuk segala macam kejadian yang terlanjur keruh. Kenyataan tiap hari menampar tidak semua hal bisa indah seperti di layar lebar. Kadang, hal sederhana yang membuat keberadaan masih terasa dianggap dan terus diingat, cukup untuk jadi bekal kuat lagi di esok hari yang penuh kejutan. 

Rasa hangat dengan kehadiranmu di dekatku penuh makna untuk bentuk memori baru dan baik di setiap detiknya. Hidup sudah terlalu banyak tuntutan. Tetap ada dan saling bergandengan tangan, walaupun di tali seberang sedang berjuang mati-matian mengusahakan yang perlu diusahakan. Keberadaanmu yang ada saat ini dan masih hangat sampai kini sudah cukup buatku, dan aku terima. Aku selamanya tidak akan bisa jadi sempurna, begitupun dengan dirimu. Tolong jangan menyerah dan kembali padaku untuk tahun-tahun berikutnya dengan senyum lebarmu yang siap bercerita lagi. Kini atau nanti, entah bisa atau tidak bisa, tolong jangan sampai gantikan pendengarmu, sekalipun aku tidak seru.


Komentar

Postingan Populer