Recehan
Orang yang lebih tua sering bilang, rezeki bisa datang ketika kita juga siap menerima rezeki itu. Salah satu caranya dengan bersih-bersih isi dompetmu dulu. Kata mereka, kalau dompetmu dipenuhi oleh hal-hal yang tidak perlu maka rezeki juga malas untuk mampir. Misalnya? setruk belanja kopi mahalmu, bon di Warung Madura dua bulan lalu, sampai tiket nonton bioskop dengan mantanmu yang tulisannya sudah pudar itu.
Hari ini aku coba bersihkan dompetku. Hadiah dompet mahal dari laki-laki yang dulunya Bapakku. Betul juga, selama ini cuma kubawa pergi keliling tanpa tahu isi sebenarnya sudah kering. Tebal? bukan lagi. Tebal diisi hal-hal yang tidak penting. Banyak sekali ada lipatan kertas usang yang memperlihatkan jumlah nominal angka. Begitu dilihat dan dihitung totalnya, dada kiriku terasa nyut, ternyata selama ini menghamburkan uang sudah seperti anak pejabat di sebuah negara kepulauan.
Dompetku selama ini tidak bisa ditutup juga karena terlalu banyak menyimpan recehan. Seratus, dua ratus, lima ratus, dan seribu rupiah. Kadang dilema, aku harus membawa masing-masing nominal berapa ya? ah, seratus rupiah rasanya tidak begitu penting, ya? aku cuma masukkan dua biji saja. Emm…dua ratus? mungkin penting, kumasukkan empat biji. Nah, lima ratus sering dipakai, sama halnya dengan koin seribu rupiah, jadi aku masukkan banyak!
Lalu aku berubah pikiran. Aku khawatir kalau nanti ketika aku belanja lalu kasirnya tidak punya kembalian, kasihan, kan?
Ah, aku masukkan yang banyak saja pecahan seratus dan dua ratus rupiahnya, barangkali nanti orang lain butuh. Namun saat aku berusaha menutup dompetku…kreekkk!!, suara resleting dompetku menyerah, lepas dari jahitannya.
Ternyata semahal apapun dompet, kalau dipaksa membawa uang dan barang di luar kapasitasnya, rusak juga, ya?

Komentar
Posting Komentar